jeudi, mai 07, 2015

Seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara Region Jawa Barat 2015 (Part 2)



Salut jeunes gens! It's kinda late to write my experiences in PPAN Jawa Barat 2015. But I will let you all know about the procedures and about how the selection has changed my perspective about this region, even though I was stopped in the second selection...

Seleksi Tahap Dua

Di tahap ini, saya banyak belajar tentang manusia, terutamanya semangat pemuda pemudi Jawa Barat. Dengan dibaginya 120 orang menjadi dua sesi, kemudian beberapa group, merupakan sebuah usaha panitia PPAN khususnya PCMI Jawa Barat untuk menonjolkan rasa silih asah, asuh dan asih yang merupakan sifat atau karakteristik masyarakat Jawa Barat dalam kehidupan bermasyarakat. 

Pada tahapan ini, semua peserta diajak untuk dapat bekerja dalam kebersamaan. Walau dalam prakteknya peserta melakukan test secara individual, namun semangat tim dan kelompok sungguh sangat berarti untuk mendukung satu sama lain. Di kelompok F, saya banyak mendapatkan hal tersebut. Teman-teman yang baru saya kenal hari itu, terasa begitu dekat dengan canda tawa mereka yang menghibur. Suasana tegang yang biasanya sering dijumpai di momen-momen seperti ini, seketika sirna dengan kebodoran teman-teman yang begitu ramah dan cheerful (walau terkadang pikiran menjadi tegang saat akan tiba giliran dipanggil).


Untuk Dipelajari


Dalam rangkaian test yang harus kami lakukan, banyak sekali catatan-catatan penting yang menjadi batu loncatan saya agar dapat terus mengembangkan diri. Catatan-catatan tersebut merupakan hal yang baru saya temukan di seleksi tingkat provinsi ini. Sebelumnya, di tingkat kota, saya kurang melihat competitiveness dari tiap-tiap peserta, sehingga saya merasa tidak terlalu memperhatikan hal-hal mendetail yang seharusnya menjadi poin penilaian lebih.

Enrich Knowledge

Pengetahuan yang harus saya lebih gali adalah seputar dunia internasional dan isu regional yang sedang menjadi hot topic. Membaca berita-berita internasional maupun regional atau lokal merupakan "obat" yang mujarab guna menghadapi pertanyaan seputar dunia internasional dan juga lokal. Selain pengetahuan di bidang-bidang tersebut, isu-isu lingkungan, ekonomi dan pembangunan berkelanjutan juga sangat menentukan nasib kita dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang unpredictable itu.

Communication Skills

Group A (I guess)

Selain pengetahuan yang mesti digali, saya juga menandai bahwa cara kita berkomunikasi dan bercakap dalam bahasa inggris ataupun bahasa Indonesia dan daerah (sunda) juga wajib untuk dijadikan cambukan untuk memperbaiki kompetensi diri. Di tahap kedua ini, kita wajib untuk meyakinkan juri bahwa kita yakin akan dapat berkontribusi dalam masyarakat. Maka dari itu, cara kita menyampaikan gagasan dan ide kita wajib untuk dipertegas dan diperlugas. 

Art and Cultural Performance

Group F, from them I learned how to respect our culture.

Tahapan seleksi yang harus saya benar-benar tandai dengan baik adalah tahapan art and cultural performance. Penilaian pada tahap ini sangat menentukan berbakat atau tidaknya seorang kandidat untuk merepresentasikan daerahnya di negara tujuannya. Maka dari itu penilian pada tahapan ini merupakan yang paling besar dari tahapan lainnya. Yang saya lakukan pada tahapan ini adalah membaca sajak yang sudah sangat terlalu mainstream yaitu Tanah Sunda karya Ayip Rosidi. Saat saya membacakan puisinya, juri pun nampaknya sudah hafal dengan sajak tersebut sehingga terkadang terlihat dari mulut juri lantunan lirik dari sajak ini. Seketika saya menyesal. Karena mungkin sudah terlalu mainstream, juri akhirnya meminta saya untuk menampilkan karya lain. Saya saat itu masih ragu untuk menampilkan apa saja yang akan saya tampilkan. Keraguan saya pun membuat saya terlihat tidak siap dalam kondisi terdesak seperti ini. Sehingga yang terucap hanyalah omongan "tidak bisa." Memang salah menempatkan posisi kata-kata tersebut pada saat unjuk bakat seperti ini, namun saya terlalu berpegang pada prinsip "mengatakan "bisa" jika memang saya mahir dan benar-benar dapat melakukannya" sehingga saya kebanyakan berkata tidak saat juri meminta saya untuk menari, menyanyi, ataupun story telling. Yeah, this must be a new kind of slap for my face. Di tahap ini saya pun belajar tentang bagaimana kita harus menghargai dan melestarikan budaya dimana kita berasal, yaitu budaya sunda. Saya merasa saya kurang banyak persiapan untuk giving my best shots for this "hunger games" West Java version.


Di tahap ini saya belajar akan pentingnya kebersamaan dan persiapan yang matang. I'm glad that I could take part as one of big 120 candidates of The Second Selection of Indonesian Youth Exchange Program region West Java.

We don't need to show what is on us arrogantly, we need to focus on our competence and on what we've done for society. So, brace yourself 'cause something challenging is so coming soon!

Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire